Untuk semua ikhwan dan akhwat yang mengazamkan dirinya untuk senantiasa berjalan di atas jalan dakwah ini. Untuk mereka yang senantiasa berdoa : Ya Allah karuniakanlah kepada kami keikhlasan, keistiqomahan, dan keteguhan dalam menempuh jalan ini.
Pengantar
Salah satu dari tiga alasan seorang Umar bin Khottob memilih untuk tetap eksis hidup di dunia ini adalah : Keindahan ukhuwah. Dua yang lainnya adalah kenikmatan qiyamul lail dan jihad fi sabilillah. Beruntung dan bersyukurlah bagi setiap kita, para aktifis dakwah, yang hari-harinya di penuhi dengan keindahan ukhuwah. Keindahan ukhuwah yang sedemikian agung. Terwujud dari yang paling rendah : salamatus shadr (lapang dada), sampai pada tahapan tertinggi : itsar (mendahulukan saudaranya dari diri sendiri).
Adalah sebuah fenomena riil, jika kita lihat kehidupan sehari-hari para aktifis dakwah. Maka akan kita temukan sekelompok manusia, atau sebuah komunitas yang cenderung lebih ceria, akrab, energik dan elegan. Jauh dari kesan kaku, kolot, galak dan beku! Diantara sekian keceriaan dan keakraban itu, muncullah anekdot-anekdot lucu atau pemaparan kisah-kisah unik yang menghangatkan ukhuwah diantara mereka.
Tulisan ini, adalah kumpulan anekdot dan kisah-kisah unik yang pernah penulis dengar, atau penulis alami sendiri dalam masa-masa interaksi bersama para aktifis dakwah tersebut. Apapun, harapan agung penulis menyusun ini adalah untuk menghangatkan ukhuwah di antara kita. Agar kembali ceria wajah-wajah kita. Agar lebih tulus senyum dan sapaan kita. Agar kita lebih siap menyambut pekerjaan-pekerjaan berat lainnya. Karena agenda dan proyek-proyek kita, jauh lebih padat dari jatah usia masing-masing dari kita. Wallahu’alam bisshowab. Selamat menikmati dan selamat meneruskan proyek-proyek dakwah antum!
Kumpulan Anekdot dan Kisah-Kisah Unik Aktifis Dakwah
1. Bughot di demo Gus Dur
Pada pertengahan tahun 2001 yang lalu, Jakarta kembali dimarakkan oleh demo-demo anti Gus-Dur, baik di Gedung DPR, Bundaran HI maupun langsung ke Istana merdeka. Banyak elemen masyarakat dan mahasiswa yang bergabung untuk turun ke jalan dengan membawa berbagai nama. Dan semakin hari, aksi turun ke jalan ini semakin sering dengan jumlah yang kian hari kian meningkat. Fenomena seperti ini meresahkan sebagian kalangan Nadhliyin yang menganggap Gus Dur sebagai perwakilan dan lambang identitas dari NU. Yang terjadi kemudian adalah munculnya wacana bughot (istilah fikih untuk pemberontakan pada pemerintahan islam yang sah) dari sebagian ulama NU yang dituduhkan pada mereka yang melakukan aksi demo tersebut. Wacana yang disertai tuduhan ini pun berkembang dimana-mana, dari mulai siaran TV, media massa sampai diskusi pembahasan fikih. Oleh para ikhwan, yang memang paling aktif dalam melakukan demonstrasi ini, tuduhan tersebut dijawab dengan enteng dengan sebuah senyuman, ” memang kita akui, bahwa sebagian besar dari kami adalah benar-benar seorang bughot, ya.. Bujangan berjenggot ! “
2. Pedagang Asongan pun tahu
Masih tentang demo anti Gus Dur, maraknya tuduhan bughot pada para demonstran membuat banyak masyarakat bertanya-tanya, siapa sebenarnya dan darimana datangnya para demonstran yang kian hari kian banyak dengan berbagai nama organisasi baru, selain organisasi yang jelas dan sudah lama eksis seperti KAMMI dan BEM SI. Tapi kebingungan seperti ini tidak melanda para pedagang asongan di sekitar bundaran HI dan istana merdeka. Mereka dengan jelas tahu persis siapa dibalik demo-demo ini. Seorang wartawan mencoba bertanya pada salah satu dari mereka.
” Anda tahu siapa sebenarnya dan darimana datangnya para peserta demo ini ?”
” Jelas kami tahu, mereka adalah orang-orang semacam KAMMI dan yang sejenis
itulah pokokmya ..! “
“Tapi, darimana anda tahu ? “
” Jelas kali, setiap kali mereka demo kami selalu dilanda kerugian, karena tak satupun dari peserta demo yang membeli rokok dari kami, dan hal ini tidak pernah kami alami, selain di demo yang dilakukan orang-orang KAMMI dan sejenis itu .”
” Oooo.. pantesan ..”
3. Menentukan Hari Demo
Dalam situasi genting dengan perkembangan peta politik yang demikian cepat membuat setiap ikhwah harus siap siaga. Kapan pun dan dimanapun ada panggilan, mereka harus segera berangkat untuk ikut turun ke jalan, bahkan mungkin dengan persiapan seadanya. Ada cerita, seorang ikhwah semalaman sudah belajar karena ada ujian (kuis) esok harinya, tapi setelah subuh mendadak ada telpon panggilan demo. Akhirnya ujian pun ditinggalkan untuk menunaikan tugas tersebut. Inilah susahnya bagi para perancang demo, untuk menentukan jam dan hari demo yang tepat agar banyak peserta yang datang dan ikut Karena jika tidak, jumlah peserta yang sedikit akan melemahkan semangat peserta demo dan mengurangi kekuatan pressure mereka.
Ada satu keunikan bahwa di Jakarta demo paling sering dilakukan hari Jumat setelah Jumatan, biasanya kumpul di Al Azhar. Dan yang paling jarang bahkan tidak pernah dilakukan adalah pada hari Sabtu. Salah seorang penggerak demo ditanya masalah ini dan mengatakan, bahwa pernah dilaksanakan pada hari Sabtu, tapi ternyata pesertanya sangat sedikit sehingga menjadi kurang efektif. Ketika ditanya ada apa dengan hari sabtu, beliau menjawab,
” Hari sabtu itu hari liqo’ nasional, kebanyakan ikhwah kita jadwal ‘ngajinya’ hari Sabtu, jadi demo boleh jalan, tapi ngaji juga tetap jalan terus..jangan sampai terganggu demo..” Read more…
Suara Anda